Beritakan Kasus Kekerasan Seksual, Media Masih Memposisikan Perempuan Sabagai Pihak yang Salah

BANDAR LAMPUNG — Dalam beberapa kasus kekerasan yang dialami perempuan, media cenderung memberi ruang untuk mengeksploitasi korban. Pers masih kurang adil dalam memberi porsi bagi suara perempuan. Pangajar jurnalisme di Universitas Multimedia Nusantara Ignatius Haryanto mencontohkan kasus pelecehan seksual yang dialami perempuan di bus Trans Jakarta. Media kemudian memasang foto korban, tapi sangat jarang menampilkan foto pelaku. “Justru yang ditampilkan adalah korban, bukan pelaku. Dalam kasus ini yang salah adalah pelaku, tapi kenapa korban yang dipasang fotonya,” kata Haryanto dalam pelatihan jurnalistik tentang gender dalam perspektif media di Whiz Prime Hotel, Bandar Lampung, Senin (26/12/2016). Pelatihan yang dihelat oleh Lembaga Advokasi Perempuan ini diikuti sebanyak 28 jurnalis. Haryanto menerangkan dalam pemilihan narasumber, juga perlu memperhatikan keberimbangan gender. Misalnya mewawancarai pengamat perempuan atau politikus perempuan. “Hal ini penting agar tulisan yang dihasilkan lebih beragam,” kata dia. Ia menilai dalam pemberitaan kasus kekerasan seksual, media hanya sekadar memenuhi rasa ingin tahu pembaca bukan, bukan demi kepentingan publik. Jurnalis diberi kepercayaan masyarakat untuk mencari informasi, maka penuhilah kepercayaan tersebut dengan manyampaikan hal yang memenang dibutuhkan publik. Redaktur LKBN Antara Lampung Budisantoso Budiman menyoroti media yang masih memberitakan kasus pelecehan seksual secara detail tentang kronologis peristiwa. Padahal hal tersebut akan semakin membuat korban merasa tertekan. Menurutnya, penjelasan yang sangat rinci mengenai kronologi kasus pelecehan bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan kejahatan serupa. Pelatihan yang digelar selama dua hari ini, 25-27 Desember 2016, menghadirkan pembicara dari Rahima Institute, Ade Kusumaningtyas. Ia mengatakan masih terjadi ketidakadilan gender dan diskriminasi gender. Misalnya perempuan dinomorduakan untuk mendapat pendidikan dengan pertimbangan hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, kata dia, peran media sangat penting untuk membebaskan para korban. Media perlu menyoroti berbagai hal yang menjadi pemicu munculkanya kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Tweet Penulis : Setiaji Bintang Pamungkas dan Padli R Editor : Padli dibaca : 36144 Kali

Sumber: Lampost.co