Tahun Ini Tidak Ada Impor Beras

Bandar Judi Bola Terpercaya Jakarta – Kalangan anggota DPR mengapresiasi kinerja Kementerian Pertanian (Kemtan) di era pemerintahan Jokowi-JK. Salah satu indikatornya adalah tidak adanya impor beras sepanjang tahun ini. Demikian disampaikan dua wakil ketua Komisi IV DPR, yakni Herman Khaeron dari Fraksi Partai Demokrat, dan Daniel Johan dari Fraksi PKB, secara terpisah, di Jakarta, belum lama ini. Herman, yang baru saja meraih gelar doktor di bidang Ilmu Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Bandung, menggarisbawahi kinerja sektor pertanian yang dipimpin Menteri Andi Amran Sulaeman, terutama di sektor tanaman pangan seperti beras dan jagung, yang dinilainya positif. Dia merujuk pada fakta, sepanjang tahun ini Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras tanpa impor, yang tercermin tidak adanya surat izin impor beras yang diterbitkan. “Impor yang dilakukan awal tahun ini, itu sebenarnya realisasi kuota impor tahun 2015 yang mencapai 1,5 juta ton, namun baru terealisasi sekitar 0,8 juta ton,” ungkapnya. Pada 2015, mengacu pada angka tetap yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi mencapai 75,55 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka itu, bukan saja lebih tinggi dari target Rencana Strategis 2015-2019 yang ditetapkan 73,40 juta ton GKG untuk tahun lalu, namun juga menjadi rekor produksi padi tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Data capaian produksi 2010-2014 jauh di bawah capaian itu. Pada 2010, produksi padi sebanyak 66,47 juta ton GKG, pada 2011 sebanyak 65,76 juta ton GKG, selanjutnya pada 2012 sebanyak 69,06 juta ton GKG, berikutnya pada 2013 sebanyak 71,28 juta ton GKG, dan dua tahun lalu 70,25 juta ton GKG. “Ini karena pemerintah sekarang fokus dan melakukan program intensifikasi dengan baik. Tentu, juga karena anggaran pertanian tahun ini juga naik,” ujar Herman Hal senada disampaikan Daniel Johan. Diungkapkan, merujuk angka ramalan BPS, produksi padi tahun ini bakal kembali meningkat menjadi sekitar 79 juta ton GKG. Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarto Tohir juga menilai positif kinerja Kemtan mewujudkan komitmen menghindari impor bawang dan cabai untuk memasok kebutuhan di dalam negeri. “Bahkan untuk komoditas jagung, realisasi impor turun hingga 60%,” ujarnya. Jika merujuk data impor jagung periode Januari-Mei 2016, mengalami penurunan 47,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Akibatnya, devisa negara bisa dihemat sekitar Rp 2,7 triliun. Winarno mengungkapkan, berdasarkan data BPS, produksi jagung tahun lalu 2015 naik menjadi 19,61 juta ton. Pencapaian kinerja Kemtan juga tercermin dari membaiknya nilai tukar petani (NTP). NTP nasional pada September 2016 sebesar 102,02 atau naik 0,45%, dibandingkan NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,73%, lebih besar dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,28%. Di sisi lain berdasarkan indeks Ketahanan Pangan global atau Global Food Security Index (GFSI) 2016, posisi Indonesia meningkat dari peringkat ke-74 menjadi ke-71 dari 113 negara. Meski demikian, baik Herman maupun Daniel mengingatkan Kemtan untuk mampu menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan. Hal itu berarti aspek distribusi harus mendapat perhatian. “Negara ini kepulauan. Kalau terjadi ombak tinggi di laut, misalnya, kapal tidak bisa berlayar, pasokan pangan ke daerah yang bukan sentra produksi terancam, dan harga bakal bergejolak,” ujar Herman. Karena itu, insentif ke sektor distribusi, khususnya untuk pangan, perlu dipikirkan. Kemudian, usul Daniel Johan, pemerintah sebaiknya membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di setiap desa. “Hal ini bisa mendorong kemandirian pangan dan ekonomi di pedesaan. Bahkan akan memudahkan Bulog dalam penyerapan beras,” jelasnya. Aditya L Djono/ALD Press Release

Sumber: BeritaSatu