Petik Pelajaran di London, Tontowi Cari Penebusan di Rio

Bandar Judi Bola Terpercaya Sao Paulo – Tontowi Ahmad yang berpasangan dengan Liliyana Natsir menjadi harapan Indonesia untuk mengembalikan tardisi emas. Babak belur di Olimpiade London empat tahun lalu, kini dia bertekad mencari penebusan di Rio de Janeiro. Hasil buruk di Olimpiade 2012 London masih membayangi Tontowi. Bersama Liliyana, mereka menjadi satu-satunya andalan Indonesia untuk meneruskan tradisi medali emas di kancah olimpiade. Mereka menjadi satu-satunya wakil Merah Putih yang lolos semifinal pada cabang olahraga bulutangkis. Besarnya tekanan itu tak sanggup diemban Tontowi/Liliyana. Mereka bermain buruk, banyak membuat kesalahan sendiri dan akhirnya dipaksa bertekuk lutut di hadapan pasangan China, Xu Chen/Ma Jin, pada babak semifinal. Penampilan buruk berlanjut saat perebutan medali perunggu. Mereka dikalahkan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark). Alih-alih emas, untuk pertama kalinya bulutangkis gagal membawa pulang medali dari olimpiade. Malah, Indonesia terlibat drama pengaturan skor di nomor ganda putri. Owi mengakui dia tampil terburu-buru dan kurang sabar di semifinal itu. Saat hasilnya tak sesuai harapan, mereka sudah kesulitan untuk mendongkrak mental pada laga perebutan medali perunggu. Padahal Owi/Butet mempunyai rekor pertemuan yang lebih sip dengan ganda Denmark itu Baca Juga: Ayo, Bawa Pulang Emas dari Rio! “Kami seharusnya fokus di satu demi satu pertandingan, dan kalau sudah kalah di semifinal, kami harus bisa fokus untuk pertandingan selanjutnya,” kata Owi mengenang kejadian itu. Berkaca hasil buruk tersebut, Owi bertekad membayar lunas hutang itu di Olimpiade Rio yang akan dimulai 5-21 Agustus. Pebulutangkis kelahiran Banyumas, 18 Juli 1987 itu tak mau terjebak di situasi yang sama. Meskipun, bersama Liliyana, dia punya bekal kurang sip menjelang Olimpiade Rio ini. Sepanjang tahun 2016, Tontowi/Liliyana hanya mengantongi satu gelar, yakni dari Malaysia Open Super Series Premier. Tapi mereka masih menjadi unggulan ketiga dalam pertandingan nanti. Satu poin yang amat membantu adalah mereka tak akan tampil sendirian di sektor ganda campuran. Mereka bakal didampingi Praveen Jordan/Debby Susanto, juara All England 2016. Lagipula, tumpuan emas Indonesia tak semata-mata ada di pundak Tontowi/Liliyana. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menjadi pasangan lain yang digadang-gadang bisa meraih medali emas. Selain itu, pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari juga berpeluang untuk meraih medali. “Kondisi sekarang memang lebih baik, kita punya beberapa andalan, ini cukup berpengaruh juga. Saya merasa termotivasi, tidak mau kalah sama yang lain, ingin yang terbaik,” jelas Tontowi. “Persiapan tahun ini sudah bagus, apalagi dengan adanya karantina di Kudus (Jawa Tengah), sangat membantu untuk menyegarkan pikiran,” Tontowi mengungkapkan. Baca Juga: Menakar Peluang Bulutangkis Raih Emas Olimpiade Lagi Jelang olimpiade Rio, Tontowi memang terlihat lebih rileks dibanding olimpiade sebelumnya. Ia sering berbagi cerita dengan Ahsan, keduanya memang dekat sejak sama-sama menjadi penghuni klub Djarum. Kebetulan keduanya, Tontowi maupun Ahsan, menyandang target yang tak bisa dibilang ringan. “Saya dan Ahsan memang dekat dari waktu di klub dulu. Kami sering sharing bareng seperti yang pernah Ahsan posting di Instagram. Waktu itu di Australia Open Super Series 2016, kami kalah di babak awal, padahal dulu kami biasa pulang di akhir turnamen. Semoga di olimpiade kami bisa sama-sama berhasil,” tuturnya. Meskipun tak lagi muda, namun Tontowi mengaku di olimpiade kali ini, semangatnya masih tinggi untuk merebut emas. Usia bukanlah penghalang baginya. “Harus dijaga mindset- nya, kalau mikirnya tua, fisik jadi gampang capek. Hidup ini penuh perjuangan, kalau kita mau sukses, kita harus berusaha, tidak boleh santai-santai. Di dalam diri saya, sebetulnya saya adalah pejuang keras, semoga saya bisa mewujudkan mimpi saya menjadi juara olimpiade,” ucap Tontowi. (fem/mfi)

Sumber: Sport Detik