Menkes: RI Hadapi Masalah Kesehatan Triple Burden

Bandar Judi Bola Terpercaya Jakarta- Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Djuwita Moeloek mengingatkan Indonesia mengalami masalah kesehatan triple burden. Maksudnya Indonesia masih dilanda penyakit infeksi, penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit yang seharusnya sudah teratasi. Hal tersebut disampaikan Menkes pada puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2016 di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (14/11). Mengutip data Global Burden of Disease 2010 dan Health Sector Review 2014, Menkes mengatakan, kematian yang diakibatkan PTM, yaitu stroke menduduki peringkat pertama. Padahal 30 tahun lalu, penyakit menular seperti infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), tuberkulosis dan diare merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan. Pergeseran pola penyakit ini, ditengarai disebabkan perubahan gaya hidup masyarakat. “Ini menjadi ancaman bagi bangsa kita,” kata Menkes. Menurut Menkes, triple burden menjadi ancaman bagi bangsa karena penduduk usia produktif dengan jumlah besar seharusnya memberikan kontribusi pada pembangunan. Sayangnya kontribusi itu terancam akibat terganggunya kesehatan oleh PTM dan perilaku hidup tidak sehat. Ancaman lainnya, kata Menkes, beban biaya yang harus ditanggung negara melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan makin membengkak akibat PTM yang seharusnya bisa dicegah dengan perilaku sehat. Sebagian besar dana JKN habis terserap untuk membiayai penyakit katastropik, seperti jantung koroner, gagal ginjal kronik, kanker, dan stroke. Terlebih pelayanan kesehatan peserta JKN masih didominasi pembiayaan kesehatan di tingkat lanjutan atau rumah sakit dibandingkan di tingkat dasar setingkat puskesmas, di mana biaya pengobatan jauh lebih besar. “Fakta ini perlu ditindaklanjuti karena berpotensi menjadi beban yang luar biasa terhadap keuangan negara,” kata Menkes. Menkes mengatakan, upaya mengurangi beban anggaran harus sejalan dengan perubahan perilaku masyarakat untuk lebih berparadigma dan menerapkan pola hidup sehat. Menurut Menkes, pentingnya perubahan pola hidup masyarakat ini mendasari prioritas pembangunan kesehatan pada periode 2015–2019 melalui program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga. Penyelenggaraan program ini memiliki 12 indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga, yaitu keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB), ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, bayi mendapat imunisasi dasar lengkap, bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, dan balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan. Indikator lainnya, ialah penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar, penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur, penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan, anggota keluarga tidak ada yang merokok, keluarga sudah menjadi anggota JKN, keluarga mempunyai akses sarana air bersih, dan keluarga menggunakan jamban sehat. Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga ini, kata Menkes, dilaksanakan secara bertahap dan diharapkan rampung akhir 2019. Di 2018, Kemkes memfokuskan pada sembilan provinsi prioritas, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. “Berdasar pengalaman dari sembilan provinsi prioritas tersebut, akan menggerakkan provinsi lain untuk melaksanakan di wilayahnya,” ucap Menkes. Di samping itu, akan diluncurkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), yakni tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Dina Manafe/WBP Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu