Mengendus Kebohongan Politikus

Rimanews – Tahun ini (2015) bakal diramaikan dengan ingar-bingar kontestasi politik dalam ajang Pilkada. Seperti biasa, rakyat akan disuguhi berbagai janji manis dari mulut politisi atau timnya. Bagi banyak anak sekolah yang pernah sedikit belajar politik, kejujuran dan integritas seorang politikus hampir-hampir seperti dongeng. Alat ucap sebagian mereka sering jauh lebih lancar ketika mengobral janji manis saat kampanye ketimbang seorang penjual jamu. Baca Juga BPBD: Empat Warga Pidie Jaya Meninggal Dunia Korban Gempa Pidie, Satu Meninggal Puluhan Luka-Luka Pidie Jaya Kesulitan Alat Berat Supaya tidak tertipu, penting bagi kita mengenali apakah mereka serius dengan janji-janji politiknya saat kampanye, atau semua yang ida sampaikan hanya bualan hasil fabrikasi konsultan politik mereka. Benteng terbaik untuk melindungi diri dari kebohongan orang lain adalah pengetahuan. Oleh sebab itu, kita patut belajar supaya tahu bahwa orang yang mengaku menjadi wakil atau pemimpin kita itu seorang pembohong atau bukan. Dilihat dari produksi wacana mereka, ada beberapa hal yang sangat memungkinkan janji-janji mereka tak akan terealisasi, sampai mereka meninggal sekali pun. Generalisasi Jika gagasan yang disampaikan oleh seorang politikus terlalu umum, misalnya mereka mengatakan, “Kami akan sejahterakan masyarakat, pendidikan maju, kesehatan terjamin, kemiskinan habis, dan seterusnya.” Patut diyakini bahwa mereka tengah berdusta. Apalagi jika mereka tak menyebut kapan target itu terwujud dan konsekwensinya apa jika gagal mewujudkan janji tersebut Jika ada politisi kampanye dengan cara seperti ini, baiknya segera kita tinggalkan. Sebab, dusta juga bisa menular. Dekat-dekat dengan seorang pendusta, orang bisa kecipratan karakter tersebut. Apalagi menerima uang dari mereka. Jangan-jangan uang tersebut hasil dari berdusta. Belum ada ceritanya, dari dulu hingga sekarang, kondisi bermasyarakat dan bernegara kita seperti yang dijanjikan politisi jenis ini dari generasi ke generasi, sejak puluhan tahun lalu. Tak menyebut cara Ada politisi yang janjinya lebih tinggi dari mimpinya sendiri, seperti mengatakan ini-itu akan gratis, gaji ini-itu naik, orang miskin akan dijamin, dan seterusnya. Akan tetapi, di saat yang sama, mereka tak menyebut bagaimana langkah atau cara mendapat dana untuk membiayai program yang super keren tersebut. Tanpa rencana dan strategi, semua mimpi hanya akan jadi ilusi. Setiap individu boleh berimajinasi tentang apa pun untuk dirinya sendiri. Namun, jika menyangkut nasib orang lain, hendaknya tidak terlalu diumbar. Pasalnya, janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar: jika tidak di dunia, tentu di akhirat. Jika beragama, seorang politikus hendaknya memperhatikan hal ini. Sebagai calon pemilih, jika ada politisi yang bicara hingga berbusa tanpa menjelaskan seperti apa langkah-langkah untuk mewujudkan target tersebut, sebaiknya segera tutup telinga dan pergi dari tempat kampanye. Ada juga politisi yang menyebut bahwa langkah-langkahnya adalah rahasia, takut dicontek oleh lawan. Patut diketahui bahwa yang seperti ini adalah kebohongan semata. Jika memang berniat memperbaiki kondisi dan mengabdi ke masyarakat, dia akan rela siapa pun yang mewujudkan kebaikan bagi bangsanya. Politik hanya dia jadikan alat untuk mengeruk keuntungan pribadi, keluarga dan golongannya. Tak konsisten Narasi yang sampaikan para pembohong biasanya tak konsisten. Jika dilontarkan pertanyaan yang sama, tapi jawabannya berbeda dari waktu ke waktu, jelaslah dia pembohong. Lidah dan bibir politisi yang berani lantang bicara di depan publik biasanya sangat lincah. Namun, untuk mengetahui apakah dia tengah berbohong atau tidak, ada cara sederhana untuk mengenalinya, antara lain: jawabannya terlalu singkat, banyak kesalahan ujaran dan jeda (seperti, emm, ee dll), lebih banyak berkedip, dan celingukan. Meminta analisis ahli atau mengenal rekam jejak politisi secara langsung adalah cara terbaik untuk mendeteksi apakah mereka jago bohong atau tidak. Namun, sebagai orang awam, strategi di atas dapat dipakai supaya kita tak tersesat dan menjadi korban penjahat politik. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Kebohongan Politikus , politik , Nasional

Sumber: RimaNews