Kisah ’’si Anak Ajaib’’ Jelang Empat Tahun Tsunami Aceh Martunis Masih Aktif Kontak Surat de

Bandar Judi Bola Terpercaya Tiga tahun setelah menjadi tamu kehormatan warga Portugal pada 2005, Martunis masih aktif kontak dengan Cristiano Ronaldo, salah seorang pemain pilar tim Selecao yang kini merumput di Manchester United, Inggris. Apa kegiatan ’’bocah ajaib’’ korban bencana tsunami Aceh itu sekarang? BAHARI , Banda Aceh NAMA Martunis di Desa Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, cukup kondang. Begitu Jawa Pos menanyakan rumahnya, seorang pemuda langsung bersemangat membantu. ’’Oh, rumah Martunis, ikuti saya saja,’’ ujar pemuda itu seraya menghidupkan sepeda motornya. Melewati jalan perkampungan yang banyak rumah yang kini masih berupa petak-petak kosong akibat disapu tsunami, kendaraan yang ditumpangi Jawa Pos menyusuri jalanan berdebu, lalu memasuki areal pertambakan. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari tempat Jawa Pos bertanya. ’’Itu rumah Martunis,’’ kata pemuda tersebut sambil menunjuk. Tak lama setelah pintu diketuk, keluarlah Sarbini, bapak Martunis. ’’Oh, ada. Silakan masuk. Martunis, ada tamu!’’ ujar Sarbini memanggil. Seorang bocah berwajah tampan bertelanjang dada lalu melongok ke ruang tamu. Dia buru-buru mengenakan kaus, lalu duduk di samping bapaknya. ’’Saya baik-baik,’’ ujar sang bocah dengan lirih nyaris tak terdengar. Sang bocah itu adalah Martunis yang kini duduk di kelas I SMP 8 Banda Aceh. Sorot mata Martunis terus menatap Jawa Pos. ’’Ini dari wartawan ingin wawancara,’’ ungkap bapaknya. Apa aktivitas Martunis sekarang? ’’Main bola (sepak bola),’’ jawabnya pendek. Apakah masih berhubungan dengan Cristiano Ronaldo? Martunis hanya mengangguk. ’’Dia (Martunis) baru kirim surat ke Ronaldo kemarin,’’ jelas Sarbini. Saat ditanya apa isinya, Martunis tak segera menjawab. ’’Ya, hanya tanya kabarnya,’’ ujar Sarbini mewakili sang anak. Cristiano Ronaldo memang bintang pujaan Martunis. Bahkan, gaya rambut pemain berumur 23 tahun yang bernama lengkap Cristiano Ronaldo Mesias Dos Santos Aveiro tersebut ditiru Martunis. Saat ditanya kenangan paling berkesan selama diundang ke Portugal? Martunis masuk ke kamarnya, lalu keluar membawa kostum timnas Portugal bernomor 1. Selain ditandatangani Ronaldo, pemain Portugal lainnya ikut membubuhkan tanda tangan. ’’Ini hadiah dari Ronaldo. Sampai sekarang saya simpan,’’ ungkap Martunis. Dia dengan bangga menunjukkan beberapa foto dirinya mejeng bersama pemain, pelatih, mantan pemain, serta orang-orang yang berkecimpung dalam sepak bola selama berada di Portugal. ’’Kami senang saat berada di Portugal. Apalagi naik pesawat,’’ ujar bocah itu bangga. Mendadak empat anak seusia Martunis membawa sepeda angin mendatangi rumah Sarbini. ’’Martunis… Martunis,’’ teriak mereka sambil lalu lalang di depan rumah. Martunis mulai tidak tenang. Duduknya terus digeser. Dia tampak gelisah. ’’Main ya Pak,’’ pinta Martunis kepada bapaknya. ’’Anak-anak sudah menunggu,’’ tambah Martunis dalam bahasa Aceh. Sarbini mencoba menahan, tapi Martunis terus merengek. ’’Ya sudah, main,’’ kata Sarbini. Setelah menyalami Jawa Pos, Martunis pun pergi bersama temannya menonton balapan sepeda motor. ’’Nggak enak ditahan, merengek terus. Namanya anak-anak,’’ ujar Sarbini setelah Martunis dan teman-temannya menjauh. Selain bersekolah, aktivitas Martunis lainnya tiap sore adalah main sepak bola di lapangan kampung bersama rekannya. Juga, les bahasa Inggris serta pelajaran lain. ’’Anaknya rajin. Pokoknya, apa pun maunya, kalau untuk kemajuan dirinya, kami orang tua hanya menuruti,’’ tegasnya. Menurut Sarbini, selain pernah diundang PSSI-nya Portugal selama 15 hari, dua tahun lalu penyanyi Madonna juga mengundang Martunis dan Sarbini ke London, Inggris, tempat sang diva tinggal bersama keluarganya. Selama di sana, Martunis yang didampingi bapaknya diajak berkeliling tempat rekreasi terkenal serta kota-kota di Inggris. ’’Kami tidak tahu apa namanya,’’ ungkap Sarbini. Bukan hanya itu, Martunis juga pernah datang ke Jakarta atas permintaan raja sinetron Raam Punjabi. Raam ingin menjadikan Martunis yang menjadi ikon baru Aceh pascatsunami sebagai pemain sinetron. Namun, belakangan niat tersebut akhirnya tidak terlaksana. Salah satunya karena bahasa Indonesia Martunis kurang lancar. ’’Sekolah Martunis di kampung, sehingga bahasa Indonesia-nya juga kurang lancar,’’ jelasnya. Dua bulan menjelang peringatan empat tahun bencana tsunami Aceh, Sarbini bersyukur bisa melihat anaknya (Martunis) selamat dari bencana dahsyat itu. Dia bahkan tumbuh normal seperti anak-anak sebayanya. Sarbini mengenang, sebelum bencana tersebut datang, Minggu pagi 26 Desember 2004 itu, Martunis berencana bermain bola bersama temannya di lapangan sepak bola kampung. Dia bahkan sudah memakai kostum nasional Portugal (bajakan) yang dibeli di Kota Banda Aceh. Tiba-tiba datang gelombang tsunami. Martunis yang saat itu baru duduk di kelas III SD bersama ibunya, Salwa; kakak laki-laki, Nurul A’la, 12; dan Annisa, 2, berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang pikap tetangga. ’’Saat itu saya sedang bekerja di tambak,’’ kata Sarbini. Saat digulung ombak tsunami, pikap pun tenggelam. Martunis, ibu, dan dua saudaranya tenggelam bersama truk yang ditumpangi. Mungkin sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, entah bagaimana ceritanya, Martunis terbawa gelombang dan muncul ke permukaan air. Sebelum terpisah dari kakak dan adik serta bundanya, Martunis mengaku sempat menarik lengan adiknya yang minta tolong. Namun, apa daya, tangan mungilnya kalah oleh arus tsunami. Seperti ibu dan kakak laki-lakinya, sang adik pun hilang diseret arus, sehingga berpisah selamanya. Martunis selamat setelah meraih sepotong kayu, lalu mengapung-apung. Kemudian, dia berpindah ke kasur yang melintas di dekatnya. Nahas, kasur kapuk itu pun tenggelam. Martunis lalu memanjat sebatang pohon untuk bertahan hidup. Dia selamat setelah terseret arus tsunami yang balik ke laut dan terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Tengku Syiah Kuala. Setelah 19 hari bertahan, penduduk menemukan Martunis pada 15 Januari 2005. Warga menyerahkan dia kepada awak televisi Inggris yang kebetulan meliput di wilayah itu. Dalam sekejap gambar dan kisah Martunis –yang masih mengenakan kaus timnas Portugal– beredar di stasiun televisi Eropa. Bocah kurus berkulit hitam itu pun menarik simpati bintang top sepak bola Portugal seperti Luis Figo, Nuno Gomes, Cristiano Ronaldo, pelatih Luiz Felipe Scolari, serta Gilberto Madail, ketua Federasi Sepak Bola Portugal. Akhirnya, PSSI Portugal mengundang resmi Martunis ke negaranya. Pada Juni 2005, Martunis didampingi ayahnya, Sarbini, dan dokter yang mendampingi, Teuku Taharuddin, berkunjung ke negeri di Semenanjung Iberia tersebut. Di sana dia mendapat hibah uang EUR 40 ribu atau lebih dari Rp 500 juta. Sebetulnya, Martunis juga mendapat tawaran untuk tinggal di Portugal. Dia sudah bersedia, asalkan bapaknya boleh ikut serta tinggal di sana. ’’Saya menolak. Kami memilih pulang ke Aceh,’’ tegas Sarbini. Dia tidak menyesal atas pilihannya tersebut. Setelah bencana besar itu, perdamaian pemerintah-GAM ditandatangani, sehingga kekerasan di Provinsi Serambi Makkah itu diakhiri. Dia berharap Martunis bisa menjadi orang, membangun Aceh, dan menemaninya pada hari tua. (el) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN