Mengunjungi Daqing, Daerah Penghasil Minyak Terbesar di Tiongkok Terinspirasi Spirit Wang Jinxi Takl

Angka Keluar Hongkong KOTA Daqing (baca Ta-jing) merupakan kota penghasil minyak terbesar di Tiongkok. Meski banyak aktivitas penambangan minyak di tengah kota, Daqing tetap bersih dan rapi. Hal itulah yang juga disaksikan wartawan Jawa Pos (JPNN Grup) SUDJATMIKO yang mengunjungi kota tersebut atas undangan PetroChina Indonesia, 19-26 Mei lalu. Setelah menempuh perjalanan estafet dari Shanghai ke Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, dengan China Shoutern Airlines selama tiga jam, rombongan meneruskan perjalanan darat melintasi jalan tol sepanjang 156 km ke Kota Daqing. Perjalanan dari Harbin menuju Daqing memakan waktu sekitar dua jam. Daqing merupakan salah satu kota terpencil di Provinsi Heilongjiang. Posisinya terletak di bagian timur laut Tiongkok. Sebenarnya sudah ada penerbangan langsung Shanghai?Daqing yang bisa ditempuh dalam waktu empat jam. Tapi, karena penerbangan ke Daqing selalu penuh, rombongan memutuskan untuk menempuh jalan darat dari Harbin ke Daqing. Penerbangan ke Daqing dilakukan setelah kota minyak itu resmi membuka bandaranya bernama Daqing Saertu Airport pada 1 September 2009. Selain Jawa Pos, rombongan dari Indonesia terdiri atas Vice President PetroChina Indonesia Mary P.Y. Pulunggono, Humas PetroChina Indonesia Ginanjar, Humas BP Migas Susana Kurniasih, dosen perminyakan ITB Rudi Rubiandini, serta wartawan Kompas Antonius Ponco. Dalam lawatan ke Tiongkok itu, rombongan juga mengunjungi Shanghai Expo 2010, pameran teknologi dan kebudayaan terbesar di dunia. Kota Daqing saat ini memasok 40 persen produksi minyak Tiongkok yang mencapai 189,4 juta ton pada 2009. Karena itu, tak heran, begitu keluar dari pintu tol Daqing, sejauh mata memandang, rangkaian pipa minyak mengular di tepi jalan menuju pusat kota. Dari kejauhan juga terlihat berbagai ukuran pompa angguk (untuk memompa minyak) yang menjalankan aktivitas. Beberapa unit pengolahan minyak mentah juga terlihat di berbagai sudut kota. Dari pemandangan awal itu, saya sempat membayangkan bahwa pusat Kota Daqing pasti penuh dengan sisa minyak yang berceceran di mana-mana, mengotori lingkungan kota. Sebab, menurut informasi yang saya terima, hampir tak ada jarak antara permukiman penduduk Daqing dan pompa angguk. Karena itu, bisa dibayangkan permukiman penduduk akan dipenuhi ceceran minyak mentah berwarna hitam pekat di jalan-jalan. Namun, bayangan saya tentang kondisi kota berpenduduk 2,6 juta jiwa itu meleset 180 derajat. Begitu rombongan memasuki Kota Daqing sekitar pukul 16.30 waktu setempat, yang muncul adalah rasa heran dan kagum. Misalnya, soal jalan, luasnya sampai 10 lajur. Antara jalur cepat dan jalur lambat, ada taman yang masing-masing selebar empat meter. Pengendara yang melintasi jalan beraspal mulus itu merasa begitu lapang, panjang, dan tak berdebu. Dari kejauhan, terlihat gedung-gedung menjulang tinggi di pusat kota. Apartemen, mal, gedung perkantoran, dan hotel berdiri di mana-mana. Menariknya, di antara gedung-gedung tersebut, berdiri puluhan pompa angguk. Ada yang berderet dua sampai empat pompa sekaligus. Bahkan, beberapa di antaranya dibangun di kompleks taman kota. Ada pula pompa angguk yang berimpitan dengan apartemen, di depan mal, atau di sekitar kompleks sekolah. Jumlah pompa angguk yang beroperasi tidak hanya satu, tapi bisa tiga pompa sekaligus. Menariknya, pompa tersebut hanya dibatasi pagar kawat biasa setinggi dua meter. Sementara itu, pompa angguk yang berada di tepi jalan rata-rata tanpa pagar pembatas. Meski pompa angguk dan refinery oil (pengolahan minyak mentah) menyatu dengan permukiman penduduk atau pusat perbelanjaan, tak terlihat sedikit pun ceceran minyak yang mengotori lingkungan. Semua terlihat serbarapi. Tata kotanya juga teratur. Setiap blok selalu dihiasi taman kota. Bagi Daqing, pompa angguk bagai aksesori raksasa yang menghiasi kota. Kompleks sebuah mal besar di kawasan Chuangye Road yang kini memasuki pembangunan tahap akhir, misalnya, “dihiasi” pompa-pompa angguk yang setiap hari beroperasi. Bagaimana bila sewaktu-waktu minyak yang dipompa bocor dan menyembur ke permukaan tanah karena kerusakan sistem kontrol pompa seperti yang terjadi di Porong” “Kami bisa menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit. Peristiwa itu pernah terjadi di kawasan perumahan. Warga pun tidak merasa terganggu,” kata Mr Hou Yunfu, vice director marketing department PetroChina Daqing Oilfield Co LTD, di sela-sela peninjauan salah satu pompa angguk di kawasan mal, Jumat pekan lalu (22/5). Menurut pria yang pernah empat tahun tinggal di Indonesia itu, warga Kota Daqing memahami betul pentingnya minyak bagi negara. Karena itu, bila terjadi peristiwa gangguan teknis, warga akan memahami. “Apalagi, warga Daqing memiliki spirit Wang Jinxi, spirit Iron Man,” ujarnya. Siapa Wang Jinxi” Dia merupakan salah seorang penambang minyak yang datang ke Kota Daqing (waktu itu Kota Daqing belum bernama) bersama 30 ribu orang dari berbagai penjuru Tiongkok. Ribuan orang tersebut diminta untuk mengeksplorasi hutan belantara yang sekarang berubah menjadi Kota Daqing itu. Wang Jinxi datang dari daerah yang jauhnya mencapai 5.000 km dari Daqing. Waktu itu, dia masih berusia 14 tahun. Dia tinggal di suatu desa di Provinsi Ganshu, dekat Xinjiang. Wang berangkat menuju ladang minyak Daqing karena terbakar semangat cinta tanah air. Berdasar sejarah Kota Daqing, begitu tiba di lokasi tambang, warga langsung membuat kelompok-kelompok kecil yang bertugas mencari sumber minyak. Mereka lalu mengeksplorasi lokasi yang dianggap potensial. Begitu pula yang dilakukan Wang bersama kelompoknya. Setelah dua kali pengeboran gagal, baru pada sumur ketiga Wang dkk menemukan sumber minyak yang besar. Saat itu, 26 September 1959, diwarnai hujan salju yang tebal, minyak muncrat dengan kerasnya dari pengeboran yang dilakukan Wang cs. Namun, tekanan minyak yang muncrat tersebut langsung diatasi. Wang pun tidak berpikir panjang. Dia bersama para pekerja ramai-rama berusaha menutup sumber minyak tersebut dengan campuran semen dan salju yang telah dicairkan. Tak lama kemudian, semburan minyak itu dapat dikendalikan. Wang pun dinobatkan sebagai pahlawan dan dijuluki sebagai “Iron Man”. Untuk mengenang perjuangan dan sepak terjangnya, pemerintah Tiongkok membangun museum khusus yang berkisah tentang perjuangan Wang Jinxi dan kawan-kawan. Sementara itu, semburan sumur ketiga tersebut menjadi awal produksi tambang minyak di Kota Daqing. Sebab, kemudian ditemukan sumur-sumur lain di banyak lokasi. Pada 1963, sumur-sumur minyak di Kota Daqing mulai berproduksi. Produksi minyak Daqing mencapai puncak pada 1976, yakni 50 juta ton per tahun. Saat ini, di bawah China National Petroleum Corporation (CNPC) yang di antaranya membawahkan PetroChina, Daqing mampu mempertahankan produksi minyak 1 juta barel per hari. “Jadi, bagi Tiongkok, Daqing sangat penting,” tegas Hou Yunfu. (*/c5/ari) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN