KPK Tak Permasalahkan Istri Irman Tolak Jadi Saksi

Angka Keluar Hongkong Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak mempermasalahkan langkah Liestyana Rizal Gusman, istri dari mantan Ketua DPD, Irman Gusman yang menolak menjadi saksi untuk melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) suaminya sendiri. Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha mengatakan, langkah Liestyana yang mengundurkan diri menjadi saksi Irman Gusman merupakan haknya sebagai istri seperti yang diatur dalam Pasal 168 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dalam undang-undang tersebut diatur mengenai pihak-pihak yang tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi, di antaranya keluarga dan istri terdakwa. “Ibu Liestyana di hadapan penyidik mengunakan hak untuk undur diri untuk saksi suaminya sesuai ketentuan hukum pasal 168 KUHAP,” kata Priharsa di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (11/10). Sebelumnya, Liestyana dipanggil penyidik KPK untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus suap terkait penambahan distribusi gula impor yang menjerat Irman sebagai tersangka. Liestyana diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas Direktur Utama CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto yang juga menjadi tersangka kasus yang sama. Dalam pemeriksaan kali ini, Priharsa menyebut, Liestyana dikonfirmasi penyidik mengenai peristiwa saat terjadinya operasi tangkap tangan terhadap Irman dan Sutanto serta Memi, istri dari Sutanto pada Sabtu (17/9) lalu. Dikatakan, KPK membutuhkan informasi serinci mungkin mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi saat itu. “Detail peristiwa dugaan perbuatan dilakukan oleh tersangka. Rangkaian peristiwa perlu didetailkan dan disesuaikan dengan keterangan saksi lain dan juga petunjuk lainnya oleh penyidik sedetail mungkin,” katanya. Usai diperiksa KPK, Liestyana mengaku dicecar penyidik mengenai peristiwa saat sang suami ditangkap KPK. Liestyana mengaku telah membeberkan seluruh hal yang diketahuinya kepada penyidik. “Yang ditanyakan adalah kejadian yang terjadi malam itu, yang saya ceritakan apa adanya,” katanya. Liestyana mengakui, sang suami sempat menerima bungkusan dari dua orang yang diketahui merupakan Direktur Utama CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto dan istrinya, Memi. Kedua orang itu meninggalkan sebuah bungkusan di ruang tamu rumah dinas Irman yang berada di Jalan Denpasar, Jakarta Selatan. “Mereka meninggalkan barang (bungkusan) itu di ruang tamu. Kemudian bungkusan itu dibawa ke lantai atas, di ruang rias. Bukan kamar,” tutur Liestyana. Meski demikian, Liestyana mengaku dirinya dan sang suami tak mengetahui bungkusan yang diserahkan Sutanto dan Memi itu berisi uang sebanyak Rp 100 juta. Liestyana dan Irman baru mengetahui isi bungkusan itu merupakan uang saat Tim Satgas KPK yang ‎melakukan OTT menanyakan perihal uang Rp 100 juta itu. Dia lantas menyobek bungkusan tersebut. Akibatnya, uang pecahan Rp 100 ribu berceceran di lantai. “Waktu pas dia (tim KPK) bilang mana uang Rp 100 juta, terus saya disuruh bapak cari di mana barang itu. Saya cari dong ke lantai atas, ruang rias. Lalu saya buka bungkusnya. Lalu saya lihat benar uang, dan itu kan robek berantakan (uangnya). Ya itu jatuh uangnya. Lalu waktu itu saya panik karena bapak juga sudah diancam untuk diborgol. Dalam keadaan panik saya lari ke atas lagi, lalu uang yang jatuh itu saya masukkan ke plastik dan turun ke bawah,” tutur Liestyana. Liestyana mengaku tidak mengenal dengan Xaveriandy dan Memi. Sementara, Irman hanya mengenal Memi sebatas rekan bisnis. “Saya tidak kenal mereka. Saya tidak pernah bertemu sama sekali dengan dua orang itu. Dan catat, suami saya hanya kenal Memi, tidak kenal sama Xaveriandy‎,” katanya. Diberitakan, dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Sabtu (17/9) dini hari, Tim Satgas KPK mengamankan empat orang, yakni Ketua DPD Irman Gusman, Dirut CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto, dan istrinya Memi. Dari kamar Irman, tim penyidik menyita uang sebesar Rp 100 juta yang diduga diberikan Sutanto dan Memi terkait dengan rekomendasi pendistribusian gula impor dari Bulog untuk wilayah Sumatera Barat. KPK menetapkan Irman sebagai tersangka penerima suap dan disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b dan atau Pasal 11 UU Tipikor. Sementara, Sutanto dan Memi ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dan dijerat dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Fana Suparman/PCN Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu