Eko Ramaditya Adikara, Tunanetra Kreator Musik Nintendo Tak Mengenal Not Balok, Hanya Andalkan Feeli

Angka Keluar Hongkong EKO Ramaditya Adikara benar-benar moncer. Kendati tidak bisa melihat, prestasinya sangat cemerlang. Dia menjadi salah seorang komposer Nintendo, perusahaan game asal Jepang. ———————————————————— AGUNG PUTU-IGNA ARDIANI, Jakarta ———————————————————— SATU set perangkat komputer diletakkan di depan kamar lantai dua Perumahan Jati Agung I, Blok B3/6, Jati Bening, Bekasi. Komputer itu dilengkapi tiga speaker, masing-masing di tengah-atas dan samping kiri-kanan layar. Malam itu (8/6), sebuah percakapan terdengar nyaring dari dalam kamar. “Itu novel Harry Potter seri kedua. Saya suka baca-baca lagi,” kata Eko Ramaditya Adikara saat ditemui di rumahnya. Lelaki yang akrab dipanggil Rama tersebut memang sedang membaca novel. Namun, novel itu tidak dibaca sebagaimana orang awas lainnya. Dia membaca dengan menggunakan sebuah program komputer yang membacakan novel tersebut. Program itu mengonversi tulisan visual menjadi suara. Setiap mengutak-atik komputer, Rama juga dibantu pembaca layar bernama JAWS (job access with speech ). Yakni, perangkat lunak yang dikembangkan Blind and Low Vision Group di Freesom Scientific St Petersbrug, Florida, Amerika Serikat. Program tersebut ditujukan bagi mereka yang tunanetra. Dalam pengoperasiannya, semua yang ditulis serta ditampilkan layar dibacakan dan disampaikan melalui speaker yang dicolokkan ke komputer. Hal itu membuat Rama leluasa mengutak-atik kotak ajaib tersebut. Rama memang buta sejak lahir. Dia sempat menjalani operasi pembuatan diafragma dan sukses hingga bisa melihat 10 persen. Tapi, setelah itu, dia buta total. Meski begitu, Rahadi Sudarsono dan Emmy Darwati, orang tua Rama, tak pernah memperlakukan secara spesial dan memanjakannya. Dia diperlakukan sebagaimana anak biasa. Kalau nakal dimarahi dan setiap keinginan tak selalu dituruti. “Orang tua mendidik saya agar mandiri,” ungkapnya. Kendati mengalami keterbatasan, Rama memiliki sederet prestasi yang harus diacungi jempol. Lelaki 29 tahun tersebut menjadi komposer musik untuk game-game bikinan perusahaan asal Jepang, Nintendo. Karya-karyanya, antara lain, game Super Mario Galaxy dan Final Fantasy VII. “Ini aku tunjukin contohnya,” kata lantas menyalakan komputer. Awalnya, dia menyetel musik lawas Super Mario yang dulu kondang di kalangan pencinta Nintendo pada 90-an. Nada-nadanya sangat simpel dengan hanya mengandalkan keyboard. Di tangan Rama, musik tersebut benar-benar lain. Dia memberikan sentuhan orkestra, bas, dan perkusi. Dia hanya mempertahankan nada-nada “wajib” game yang menceritakan petualangan tukang ledeng super itu. Yakni, melodi-melodi riangnya yang khas. Nada Mario tersebut diaransemen ulang dengan seabrek program musik digital. Hasilnya luar biasa. Musik game bergenre petualangan itu seolah dihasilkan dari alat musik langsung. Bukan sekadar efek keyboard. Begitu juga musik untuk game Final Fantasy VII. Dalam game yang populer di kalangan gamer itu, Rama menambahkan unsur-unsur etnik. “Ini coba dengar,” ujarnya lantas menekan tombol enter. Saat musik mengalun, dia lantas mengambil seruling di laci di bawah layar komputer. Dia meniup seruling persis saat melodi seruling masuk dalam lagu tersebut. Rama memang gila komputer sejak kecil. Dia tak bisa dilepaskan dari ketertarikannya pada komputer saat berusia tujuh tahun. Saat itu, dia dimasukkan asrama sejak SD hingga SMA. Itu ditujukan agar dia bisa hidup mandiri. Setiap selesai jam pelajaran, ayahnya menjemput dari sekolah dan mengajak ke kantor. Di situ, Rama mengenal permainan komputer yang saat itu masih berbasis DOS (disc operating system). Semua permainan menggunakan disket. Dia juga mulai mengutak-atik aplikasi pengolah kata seperti Word Star (WS) dan pengolah data Lotus. Rama mengawali kiprahnya dalam mengutak-atik musik game pada 2005. Dia iseng membuat versi musik game yang lain dan beda. Musik-musik itu dia kirimkan ke Nintendo di Jepang. Tapi, saat itu dia belum dikontrak tetap oleh Nintendo. Dia hanya mengirimkan musik karyanya tanpa diganti duit. “Itu seperti thank you project. Hanya dapat ucapan terima kasih,” ungkapnya lantas tersenyum. Dia menuturkan, banyak orang yang kaget bahwa seorang tunanetra bisa membuat musik untuk game yang justru membutuhkan kejelian pandangan. Sulung di antara dua bersaudara itu menuturkan, biasanya setiap order musik selalu disertai skrip. Dalam skrip itu digambarkan kondisi karakter, situasi, serta lingkungannya. Dari situ, Rama bisa membayangkan seperti apa musik yang pas. Lelaki yang juga aktif di training ESQ itu biasanya memahami game dari musik sebelumnya. Dia tinggal mengaransemen lagi. Menariknya, Rama tak pernah mengenal not balok, rima, dan tangga nada dalam musik. Dia tak pernah mengenal nada do, re, atau mi. Dia juga tak mengenal rima 4/4 atau 3/4. Dia hanya mengandalkan intuisi dan feeling. “Sama seperti Melly Goeslaw lah. Mencipta lagu tanpa tahu nada lagunya,” ujarnya lantas terkekeh. Begitu juga dalam bermain musik. Alat musik yang dia kuasai adalah seruling. Setiap kali bermain seruling, dia hanya mengandalkan perasaan. “Pokoknya turun naik nadanya sesuai. Itu saja,” tegasnya. Pada 2008, Nintendo mulai mengontrak Rama secara permanen. Dia kebagian tugas membikin musik game bila ada order dari Jepang. Kalau sedang tidak ada order, Rama menulis. Selain menjadi komposer musik, Rama memang berprofesi sebagai wartawan. Dia aktif menulis untuk kolom teknologi informasi di sebuah portal berita nasional. Mulai gadget terbaru hingga tip-tip aksesori terbaru komputer. “Belum ada yang pegang iPad, aku sudah pake,” katanya. Lantas, di mana iPad-nya sekarang? “Ya sudah dibalikin ke orangnya. Cuma pakai buat nulis review,” ungkap fans berat pembalap Valentino Rossi tersebut lalu tertawa. Meski sukses di dunia game dan tulis-menulis, Rama punya “daftar dosa”. Yakni, dia tidak lulus dari kuliahnya di Jurusan Sastra Inggris Universitas Darma Persada. Padahal, saat itu dia tinggal menyelesaikan skripsi. Rama memang menyerah soal skripsi. Alasannya, skripsi yang dia kerjakan itu tak bermanfaat langsung kepada masyarakat. “Kalau kata Bang Andy ( host Kick Andy , Andy F. Noya, Red), lentera jiwanya nggak ke sana,” jelasnya. Kini, sebagai pengganti skripsi, Rama berkiprah dengan lebih konkret. Yakni, menjadi pembicara dari sekolah ke sekolah serta sejumlah perusahaan. Menurut dia, profesinya paling gres itu membuat dirinya merasa seperti Jedi Knight alias Kesatria Jedi. Kesatria Jedi adalah karakter dalam film legendaris Star Wars. Yakni, kesatria yang berpetualang antarplanet untuk menjaga perdamaian dan menjaga stabilitas pemerintahan. “Saya selalu berpetualang ke sekolah, perusahaan, dan tempat-tempat lain untuk berbagi pengetahuan,” katanya. (c5/agm) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN