Dibalik Misteri Putusan MK Uji UU Pilpres Efendi Gazali

RIMANEWS – Pakar hukum Yusril Ihza Mahendra mengaku banyak misteri dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) uji UU Pilpres Efendi Gazali. Baca Juga “Saya telah membaca dengan seksama putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji UU Pilpres yang dimohon oleh Effendi Ghazali dkk. Intinya seluruh pasal UU Plpres yang dimohon uji dinyatakan MK bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak punya kekuatan hukum mengikat,” kata Yusril, Kamis (23/1). Menurutnya, MK dalam pertimbangannya menyatakan bahwa pemilu serentak baru berlaku untuk Pemilu 2019 dan seterusnya, bukan untuk Pemilu 2014. Meski pasal-pasal UU Pilpres bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak punya kekuatan hukum mengikat, namun pasal-pasal tersebut tetap sah digunakan untuk Pemilu 2014. “MK juga mengatakan bahwa dengan putusan ini, maka perlu perubahan UU Pileg maupun Pilpres untuk dilaksanakan tahun 2019 dan seterusnya. Itu disebabkan Efendi Ghazali dkk tidak memberikan jalan keluar setelah pasal-pasal UU Pilpres yang diuji dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. Dengan demikian, setelah dinyatakan bertentangan dan tidak punya kekuatan hukum mengikat, akan terjadi kevakuman hukum,” ungkapnya. Dalam permohonannya, dirinya menunjukkan jalan keluar itu. “Saya minta MK menafsirkan secara langsung maksud pasal 6A ayat (2) dan Ps 22E UUD 1945,” ujarnya. Bagi Yusril, kalau MK tafsirkan maksud pasal 6A ayat (2) parpol peserta pemilu mencalonkan pasangan capres sebelum Pileg, maka tak perlu UU lagi untuk melaksanakanya. Kalau MK tafsirkan pasal 22E ayat (1) bahwa pemilu dilaksanakan sekali dalam lima tahun berarti pileg dan pilpres disatukan, tak perlu mengubah UU untuk melaksanakanya. “Maka penyatuan Pileg dan Pilpres dapat dilaksakan tahun 2014 ini juga. Namun apa boleh buat MK sudah ambil keputusan rupanya sejak setahun lalu, namun baru hari ini putusannya dibacakan,” cletuknya. Banyak orang mencurigai dirinya mengapa baru sekarang ajukan uji UU Pilpres dengan sejuta purbasangka. “Seolah karena kini Hamdan yang jadi Ketua MK, maka Hamdan akan bantu saya,” ucapnya. Banyak Misteri Dalam Putusan MK… Mengapa tidak mencurigai Akil sebagai eks Golkar yang menahan-nahan pembacaan putusan permohonan Efendi Ghazali hampir setahun lamanya? “Mengapa putusan itu baru dibaca sekarang ketika Pemilu 2014 sudah dekat? Atas dasar itu dinyatakanlah putusan baru berlaku untuk Pemilu 2019,” tegasnya. Yusril menegaskan, kalau permohonannya dengan Efendi banyak kesamaannya, mengapa MK tak satukan saja pembacaan putusan, agar 2 permohonan sama-sama jadi pertimbangan? “Bagi saya banyak misteri dengan putusan MK ini. MK seolah ditekan oleh parpol-parpol besar agar pemilu serentak baru dilaksanakan tahun 2019. Kini saya sedang pertimbangkan, apakah saya akan meneruskan permohonan saya atau tidak. Saya akan ambil keputusan setelah menimbang-nimbangnya dengan seksama,” pungkasnya. (IM/RM) Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Fokus Isu , Putusan MK , Misteri , uji uu pilpres , efendi gazali , Fokus Isu , Putusan MK , Misteri , uji uu pilpres , efendi gazali , Fokus Isu , Putusan MK , Misteri , uji uu pilpres , efendi gazali

Sumber: RimaNews